Tjahjo Kumolo

Tjahjo Kumolo Diangkat sebagai “Bobot” Masyarakat Maybrat

Maybrat – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo diangkat sebagai “Bobot” masyarakat Maybrat, Papua Barat (Papbar). Tjahjo dinilai salah satu figur yang berhasil menciptakan perdamaian di Maybrat.

Anggota Tim Rekonsiliasi Adat/Sosial Maybrat, Thontji Wolas Krenak menjelaskan, wilayah Maybrat diliputi konflik selama hampir satu dasawarsa. Hal itu menyusul adanya polemik penentuan ibu kota Maybrat. “Bapak Mendagri salah satu aktor kunci terciptanya perdamaian di Maybrat. Untuk itu, Bapak Menteri dipandang sebagai ‘Bobot’ yang bisa mengayomi masyarakat adat Maybrat,” kata Wolas di Kumurkek, Maybrat, Papbar, Rabu (3/10).

Mantan wartawan Suara Pembaruan itu berharap agar Tjahjo dapat melaksanakan tugas dan fungsi “Bobot” melalui penetapan kebijakan pemerintahan yang baik bagi Kabupaten Maybrat. Misalnya, dalam bidang regulasi, kebijakan pendanaan, dan kebijakan sektoral lainnya.

“Semua bertujuan menyejahterakan masyarakat Maybrat pada khususnya dan umumnya rakyat Papua, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar dia.. Sekadar diketahui, Tjahjo mengikuti prosesi adat pengangkatan “Bobot” oleh 30 orang “wuon” atau pemuka adat laki-laki untuk memasuki “rumah inisiasi”. Acara lalu dilanjutkan dengan menyematkan atribut adat kepada Tjahjo.

Dengan berakhirnya prosesi itu, Tjahjo sah menjadi anak adat dan Bobot Maybrat. “Saya berterima kasih diberi penghormatan dan penghargaan ini. Mari kita bersama-sama membangun kabupaten ini ke depan agar semakin baik,” kata Tjahjo.

Mendagri mengaku berbahagia dapat dinobatkan sebagai Bobot. “Maybrat jadi tumpah darah saya. Kalau yang masih hidup dengan saya, kalau saya nanti berkunjung ke sini, dipanggil Tuhan, maka saya ingin dimakamkan di sini,” ucapnya.

Ia mengaku bahwa kedatangannya di Maybrat merupakan yang pertama kali. “Saya berjanji, berikutnya saya akan hadir di sini. Setidaknya, meresmikan gedung-gedung yang akan dibangun. Mari kita bergandengan tangan, bersatu padu membangun Maybrat,” ajak Tjahjo.

Ia juga telah mendengar adanya aspirasi pemekaran Maybrat menjadi Maybrat Sau. “Ada aspirasi daerah pemekaran. Saya tampung. Saya dengar asprasi dan akan saya sampaikan kepada pemerintah pusat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Tim Rekonsiliasi Adat/Sosial Maybrat, Otto Ihalauw menuturkan, Tjahjo kini memiliki keterikatan adat dengan Maybrat. Ia berpesan supaya Tjahjo dapat senantiasa melakukan supervisi dan pendampingan untuk Maybrat.

“Kantor-kantor bisa berfungsi. Supervisi dan pendampingan serta pembinaan kita harapkan turun. Bina masyarakat, bina pemerintahan, karena masyarakat butuh pelayanan,” kata Otto. Sementara, Bupati Maybrat, Bernard Sagrim mengatakan, pihaknya memang mengusulkan adanya pemekaran daerah otonom baru (DOB) di Maybrat.

“Kami mohon jika moratorium pembentukan DOB dibuka kembali, maka Bapak Mendagri berkenan merekomendasikan pembentukan DOB Maybrat Sau yang sudah ditetapkan oleh ampres (surat amanat presiden) pada 2012,” ujar Bernard. Dikatakan, masyarakat Maybrat juga berkomitmen untuk membagi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) induk Maybrat bagi DOB Maybrat Sau. “Secara proposional dan sesuai mekanisme ketentuan perundangan yang berlaku,” tambahnya. (BeritaSatu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *