Tjahjo Kumolo

Saat Menteri Tjahjo Mencabut Keris

Solo – Malam merambat meninggalkan petang. Tapi, di Pura Mangkunegaran, suasana begitu ramai. Ribuan orang memadati area pura. Beberapa orang bule ikut hilir mudik.

Rupanya Rabu malam (20/9) itu, tengah digelar tradisi rutin Keraton Mangkunegaran Solo, menyambut datangnya tahun baru Islam, atau di kalangan orang Jawa dikenal dengan sebutan malam 1 Suro. Setiap tiba Malam 1 Suro, keraton Mangkunegaran selalu menggelar acara kirab pusaka. Acara itu, sudah jadi tradisi rutin yang digelar pihak keraton.

Ribuan warga yang memadati area pendopo Mangkunegaran sendiri, datang untuk menunggu momen penyucian pusaka keramat keraton yang dicuci di malam itu. Air bekas cucian pusaka keraton itu yang ditunggu-tunggu. Istilahnya ‘ngalap’ berkah. Banyak yang percaya air bekas mencuci pusaka keraton bawa berkah. Karena itu warga rela berdesakan, demi dapat ‘berkah’ pusaka. Beruntung saya bisa hadir di acara itu. Saya hadir di acara itu karena diundang Kementerian Dalam Negeri meliput acara tersebut.

Selain dihadiri warga dan turis bule, acara kirab pusaka keraton juga dihadiri dua menteri kabinet kerja. Dua menteri yang hadir di acara kirab, adalah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Keduanya hadir mengenakan pakaian ala adat Jawa. Menteri Tjahjo misalnya mengenakan beskap warna hitam. Di belakang terselip sebuah keris. Kepalanya pakai blangkon. Sementara Menteri Susi datang dengan berpakaian kebaya, juga warna hitam. Rambutnya disanggul ala rias Jawa.

Keduanya, sudah tiba di keraton sejak petang. KGPAA Mangkunegara IX yang menyambut langsung. Ada pemandangan menarik, saat Menteri Tjahjo asyik mengobrol dengan KGPAA Mangkunegara IX. Ia tampak mengeluarkan keris yang diselipkan dibelakang pinggangnya. Keris itu lalu dicabut dari sarungnya, lantas diperlihatkan ke KGPAA Mangkunegara.

Tak berapa lama, keris itu diserahkan ke tangan KGPAA Mangkunegara. Setelah menerima keris dari tangan Menteri Tjahjo, terlihat KGPAA Mangkunegara memegang keris lantas menempelkannya di dahinya, seperti sedang merasakan sesuatu.

Setelah itu KGPAA Mangkunegara menyerahkan kembali keris tersebut. Keduanya tampak bertukar obrolan. Entah apa yang diobrolkan, sebab suasana begitu riuh. Tidak berapa lama, Menteri Tjahjo menyarungkan keris, dan menyelipkannya kembali dibelakang pinggang.

Sejak melihat adegan Menteri Tjahjo mencabut keris, saya merasa penasaran, keris apa gerangan sampai Tjahjo harus memperlihatkan ke KGPAA Mangkunegara. Makin penasaran dengan sikap KPPP yang menempel kan keris itu ke dahinya.

Pagi harinya, rombongan Mendagri, sudah bersiap. Rencananya Kamis siang, ia akann hadir di acara sebuah ormas di Yogyakarta. Saya pun bersama anggota rombongan lain, sudah ada dalam mobil. Tapi, saat mobil hendak berangkat, tiba-tiba Kepala Bagian Humas Kemendagri, Pak Acho Maddaremeng, memanggil.

” Mas, diminta bapak ikut mobilnya,” kata Pak Acho kepada saya.

Tentu saja, saya kaget mendengar. Sekaligus kikuk. Sebab seumur hidup, saya belum pernah duduk satu mobil dengan menteri. Sepanjang saya liputan di Kemendagri, mulai dari zamannya Pak Ma’aruf, Pak Mardiyanto dan Pak Gamawan, tak pernah diminta ikut dalam satu mobil. Apalagi ini, duduk di sebelahnya.

Mungkin kalau satu pesawat, beberapa kali pernah mengalami. Atau satu gerbong kereta. Tapi ini, duduk satu mobil, di sebelahnya pula. Karena sudah diminta, saya pun langsung keluar dari mobil, menuju mobilnya Pak Tjahjo. Saat hendak membuka pintu mobil yang ditumpangi Menteri Tjahjo, saya sempat ragu. Rasa kikuk kian menjadi. Namun karena sudah diminta, akhirnya saya buka pintu.

Begitu pintu sudah dibuka, Menteri Tjahjo, sudah duduk santai di dalam mobil. ” Masuk mas,” kata Menteri Tjahjo.

Kikuk perlahan hilang. Setelah basa basi sebentar, saya segera duduk. Pintu mobil pun saya tutup. Di depan mobil Patwal polisi perlahan bergerak, sampai akhirnya keluar dari halaman hotel, lalu meluncur ke arah Jalan Raya Solo-Yogyakarta. Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, kami ngobrol ngalor. Saya pun banyak bertanya. Salah satu yang saya tanyakan, tentang keris yang dicabutnya di depan KPPP Mangkunegaran Solo.

Ternyata, keris itu, bukan sembarang keris. Menurut Menteri Tjahjo, keris itu dibuat ratusan tahun yang lalu. Tepatnya, di buat di abad XV.

“Itu Keris Parung Sari. Dibuat abad XV. Empu Kodok nama yang membuat di zaman Keraton Madiun yang kemudian ke Mangkunegaran melalui Panembahan Senopati,” ujarnya.

Menteri Tjahjo sendiri memang dikenal sebagai menteri yang punya banyak koleksi keris. Bahkan salah satu koleksinya adalah keris yang dibuat di zaman Kerajaan Majapahit. (Agus S/Kumparan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *