Tjahjo Kumolo

Menteri Dalam Negeri: Perangi Sengkuni Masa Kini, Penebar Fitnah

YOGYAKARTA — Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo berpesan agar masyarakat memerangi “Sengkuni” masa kini. Ia menyatakan, sifat dari karakter wayang itu masih ada dalam kehidupan bermasyarakat, mereka merupakan pihak yang ingin memecah persatuan bangsa.

Hal itu disampaikan Tjahjo dalam pidato penutupan rapat koordinasi nasional Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat Rasa Sejatining Inti Kamanungsan (Rajatikam), di Yogyakarta, Sabtu (1/12/2018).

“Di perpolitikan ada Sengkuni, di pemerintahan juga ada Sengkuni. Sengkuni itu yang biasa berfitnah ria, yang biasa mengumbar kebencian, itu sengkuni-sengkuni yang harus kita habisi,” kata Tjahjo.

Sengkuni adalah tokoh antagonis dalam kisah wayang Mahabarata. Ia terkenal memiliki sifat licik dan suka mengadu domba. Ia menghasut orang agar bermusuhan demi memperoleh kekuasaan maupun kekuatan.

“Cerita wayang sudah mengisyaratkan bahwa zaman dulu ada Sengkuni. Kalau dulu dengan omongan, mungkin sekarang mereka bermain media sosial. Sengkuni-sengkuni masa kini harus dicermati dengan baik,” kata Tjahjo.

Menurut survey yang dilakukan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), pada September 2018, tercatat 53 hoaks politik. Secara rinci, 37 hoaks menyerang pasangan capres dan cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin, pemerintah, dan pendukungnya, sedangkan 16 hoaks menyerang pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebagian besar berita bohong itu disebarkan melalui media sosial.

Terkait hal itu, Ketua Umum Ormas Rajatikam Veronika Fitriniar Sidik mengungkapkan, generasi muda harus bijak dalam bermedia sosial. Hendaknya ruang media sosial itu diisi dengan materi-materi yang menguatkan persatuan bangsa.

“Kita harus mengedepankan persatuan bangsa ini. Keberagaman sudah menjadi barang pasti bagi Indonesia. Jangan sampai hal-hal itu dirusak dengan ujaran-ujaran kebencian yang memecah belah melalui media sosial,” kata Veronika.

Veronika menambahkan, generasi muda diharapkan bisa menyaring berbagai informasi yang benar dan tidak. Sebab, berita bohong mudah tersebar luas di tengah kemudahan akses informasi dan telekomunikasi saat ini.

“Kita jangan menyebarkan berita hoaks. Kalau ada berita yang kita terima itu dicerna dulu. Kalau itu berita yang kita tidak mengerti jangan disebarluaskan dulu. Media sosial harus dipergunakan dengan baik,” kata Veronika.

Selain itu, Tjahjo menyampaikan, ada banyak ancaman yang menghambat Indonesia untuk maju. Hambatan itu antara lain radikalisme, terorisme, narkoba dan  korupsi.

“Itu tanggung jawab kita semua untuk melawannya. Kita harus berani menentukan sikap. Siapa kawan dan lawan, yang ingin mengubah Pancasila. Ingin merusak kemajemukan. Itu lawan kita,” kata Tjahjo. (Kompas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *