Tjahjo Kumolo

Mendagri: Pengabdian Itu Sampai Hembusan Nafas Terakhir

MAKASSAR – Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo secara resmi melantik Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono sebagai Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan. Sumarsono sendiri akan menggantikan posisi Syahrul Yasin Limpo yang telah berakhir masa jabatannya.

Dalam kata sambutannya usai melantik, Menteri Tjahjo atas nama pemerintah pusat mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan loyalitas selama 10 tahun masa kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’man. Menurut Tjahjo, Syahrul dan Agus, telah berhasil melaksanakan tugas sebagai kepala daerah.

“Bagi kami di pusat, keberhasilan gubernur karena didukung oleh seluruh jajaran pemerintah. Pak Gubernur juga berhasil memastikan program strategis pusat sehingga dengan berjalan baik seiring dengan program prioritas Pak Gubernur,” kata Tjahjo di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, (9/4).

Menurut Tjahjo, pemerintahan sekarang ini unik. Janji kampanye Presiden, Gubernur dan Bupati, itu yang kemudian jadi program jangka pendek baik di pusat dan daerah. Dan, ini membutuhkan sinergi dan koordinasi yang baik. Tentang Syahrul Yasin Limpo sendiri, Tjahjo memujinya. Di mata dia, Syahrul adalah gubernur yang berhasil.

“Pak Yasin Limpo ini 25 tahun jadi kepala daerah. Dua periode jadi bupati, gubernur, wakil gubernur, belum dihitung jadi camat, kepala desa,” katanya.

Ia juga memuji duet Syahrul dan Agus yang bisa bertahan dalam dua periode. Padahal di provinsi lain, ada gubernur dan wakil gubernur baru dilantik langsung tak bertegur sapa. Bahkan ada gubernur dan wakil gubernur, baru tiga bulan terpilih sudah berkelahi.

“Saling serang di medsos. Kami selalu sampaikan ke bupati, wakil ya wakil,” katanya.

Kalau memang ada yang mau jadi presiden, wakil presiden, gubernur atau wakil gubernur, kata dia, ikuti prosesnya. Jangan kemudian menghina dan menghujat. Mengenai pesta pemilihan kepala daerah serentak, Tjahjo bersyukur, sudah dua kali gelombang Pilkada serentak digelar, bisa berlangsung aman dan sukses. Meski ada dinamika, tapi masih dalam taraf yang wajar.

“Saya yakin Pilkada di Sulsel bisa lancar dan aman. Kuncinya pada Pak Soni (Sumarsono) sebagai penjabat. Tolong bangun koordinasi dengan kepolisian, DPRD, TNI, dukung penuh KPU dan Panwaslu. Libatkan tokoh agama. Termasuk perguruan tinggi yang ada. Pemda tak hanya gubernur dan kepala desa, ada polisi, TNI, tokoh masyarakat. Saya yakin Pak Soni sebagai penjabat bisa bangun sinergi dan komunikasi. Pak Soni punya pengalaman jadi Penjabat,” tutur Tjahjo.

Indonesia, kata Tjahjo, telah tujuh puluh tahun lebih merdeka. Dan, tantangan. Semakin berat. Tapi, Sulsel telah mampu membuktikan diri, mampu swadaya pangan. Setidaknya Sulsel telah jadi barometer nasional, khususnya untuk masalah beras.

“Kami apresiasi,” ujarnya.

Menurut Tjahjo, tantangan bangsa ini ada empat. Pertama radikalisme. Ini bukan tanggung jawab TNI dan polisi saja. Tapi tanggung jawab semua elemen bangsa. Semua yang cinta NKRI, harus berani tentukan sikap, menentukan siapa kawan siapa lawan yang mau merusak NKRI. ” Kita harus tegas,” katanya.

Tantangan kedua, narkoba. Saat ini, 50 orang per hari meninggal karena narkoba. ” Kita wajib pertanyakan pada beberapa Tiongkok, Papua Nugini, Malaysia, Singapura, karena itu jadi sumber masuk narkoba,” ujarnya.

Tjahjo juga sempat menyinggung soal ormas di Indonesia. Katanya, ormas di Indonesia saat ini sudah mencapai 351 ribu organisasi. Ragam macam ormas di Indonesia, mulai dari yang agama sampai geng motor. ” UU menjamin masyarakat untuk berserikat. Tapi ada aturannya. Setiap ormas harus mampu menjabarkan Pancasila, karena itu adalah deologi negara,” kata Tjahjo.

Tantangan ketiga, masalah korupsi. Ia pun mewanti-wanti, agar semua pejabat paham dan mencermati area rawan korupsi. Area rawan korupsi mencakup antara lain perencanaan anggaran yang melibatkan eksekutif dan legislatif. Ia minta jangan sampai ada kongkalikong. Area rawan korupsi kedua terkait dana hibah dan bansos. Ketiga, retribusi dan pajak. Keempat menyangkut belanja barang dan jasa.

“Mohon dicermati. Tolong di kawal, karena sudah 98 kepala daerah yang kena OTT. Sejak KPK ada, sudah ada 357 pejabat baik pusat dan daerah yang kena kasus,” ujarnya.

Tjahjo juga mengingatkan masalah ketimpangan sosial. Saat ini angka Kematian ibu hamil masih tunggi. Peran PKK sangat penting untuk menggerakkan dan memberdayakan para ibu. Hal lain yang harus di cermati, angka kematian akibat kanker serviks. Belum lagi masalah malaria dan TBC.

“Makanya saya dalam Musrenbang teknis nasional, saya selalu mendorong daerah memperhatikan masalah ketimpangan, kesehatan, infrastruktur pendidikan dan lain-lain,” katanya.

Khusus untuk Pilkada Sulsel, Tjahjo berharap menjadi pesta politik yang bermartabat. Karena itu, semua yang terlibat dalam Pilkada, harus berani melawan racun demokrasi. Politik uang, ujaran kebencian, fitnah dan hoax, harus dilawan. Kembangkan dan utamakan politik adu konsel dan gagasan.

“Pak Yasin Limpo dan Pak Agus, terima kasih atas pengabdiannya. Terima kasih juga Ibu Yasin dan Ibu Agus, ikut mengawal suami tercinta. Tanpa pengawasan dari ibu, Pak Yasin dan Pak Agus tidak bisa sukses sekarang, ” katanya.

Kepada Penjabat Gubernur Sulsel, Sumarsono, Tjahjo juga berpesan agar menjaga betul netralitas PNS. ” Tiru kepolisian, tiru TNI dalam menjaga netralitas. Pada pers tolong kritisi terus. Pada Pak Yasin Limpo, pengabdian itu sampai akhir hembusan nafas. Dimana pun, kita bisa mengabdi,” katanya.

Sementara itu Syahrul Yasin Limpo mengatakan, selama 10 tahun berduet dengan wakilnya, ia tak pernah ribut. Pun dengan DPRD. ” Tak pernah ribut dengan Muspida saya. Dengan para bupati saya,” katanya.

Selama 10 tahun memimpin Sulsel, lanjut Syahrul, juga tak pernah ada gesekan, meski bukan berarti tak ada dinamika. Dan ia merasa bersyukur, 10 tahun memimpin banyak kemajuan yang telah dicapai. Salah satu riset internasional bahkan mencatat lompatan pertumbuhan ekonomi di Sulsel yang mencapai 500 persen. ” Nomor satu itu Korsel dengan 1200 persen, kedua Singapura 450 persen. Tapi itu dicapai dengan waktu 30 tahun, tapi Sulsel dalam waktu 10 tahun,” katanya.

Ia juga merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang disebutnya telah memanjakan Sulsel dengan berbagai program pembangunannya.

“Saya terima kasih juga pada Pak Jokowi yang telah manjakan kami. Sehingga bisa memperkuat Indonesia dari Timur. Terima kasih Pak Menteri telah mengutus Pak Soni (Sumarsono),” kata Syahrul. (Kemendagri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *