Tjahjo Kumolo

Membumikan Pancasila, Mencontoh Pandawa

JAKARTA – Semangat keindonesiaan, itulah salah satu warisan terbesar Soekarno atau Bung Karno, Presiden RI pertama yang juga salah satu proklamator. Lewat Pancasila yang digalinya di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), semangat keindonesiaan itu dibumikan. Menjadi ideologi yang merekatkan. Jadi obor dan api penuntun bangsa. Hingga sekarang.

Semangat itulah yang harus di rawat. Jadi ruh dari setiap tindakan dan kebijakan. Menjadi penuntut dan petunjuk dari kehidupan berbangsa, bernegara dan masyarakat. Tentu banyak cara untuk menyerap, merawat, mematri dan membunyikannya. Salah satunya lewat tradisi kesenian yang lebih mudah dicerna dan diterima masyarakat. Salah satunya lewat pagelaran wayang.

Pada Jumat malam, 29 Juni 2018, di Tugu Proklamasi, di Jakarta, digelar pementasan wayang kulit. Ki Dalang yang manggung Ki Anom Dwijo Kongko. Lakon yang bedar, Pandawa Manunggal. Pagelaran wayang itu sendiri merupakan hajatan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri dalam rangka memperingati Puncak Kegiatan Bulan Pancasila Tahun 2018.

“Wayangan ini dalam rangkaian bulan Bung Karno, dimana rangkaiannya di awali kemarin di Ende, NTT untuk memperingati lahirnya Pancasila, kemudian gerak jalan untuk mendukung suksesnya Asean Games, malam ini wayangan, syukuran juga dengan sukses lancarnya Pilkada, juga pembersihan tempat peninggalan Bung Karno di Bengkulu, ” kata Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo disela-sela acara pagelaran wayangan.

Mengenai lakon Pandawa Manunggal yang dibawakan Ki Dalang Anom Dwijo Kongko, dari sisi pesan sangat tepat untuk menggambarkan Indonesia sebagai bangsa majemuk. Dalam lakon tersebut banyak pesan serta makna yang bisa dicatat dan diserap. Makna dan pesan yang paling penting, adalah tentang pentingnya kemanunggalan. Rasa persatuan. Ikatan persaudaraan. Intinya, tentang kebhinekaan dalam satu bangsa.

Perbedaan di Indonesia lanjut Tjahjo adalah kekuatan. Sebuah fondasi. Bukan seperti dalam cerita wayang, ibarat Pandawa dan Kurawa, dua saudara yang berhadapan lalu berperang demi kekuasaan. Kurawa yang serakah dan menghalalkan segala cara. Dan Pandawa yang membela hak.

“Apapun bangsa Indonesia ini jangan seperti di pewayangan itu, ada pandawa, ada Kurawa. Semua Pandawa semua ksatria, sepanjang ksatria- satria itu mampu mengamalkan Pancasila,” katanya.

Karena itu, kata dia, semua kebijakan yang diambil, pijakan serta spiritnya adalah untuk membumikan Pancasila. Dalam rangka menjabarkan seluruh sila dalam Pancasila. Seperti Pandawa yang melawan keserakahan Kurawa.

“Setiap mengambil kebijakan, keputusan politik. Apapun pusat maupun daerah kalau menjabarkan sila- sila dalam Pancasila tentu dia satria Pandawa. Mari kita kompak, ini bangsa yang majemuk tapi kita satu sebagai bangsa yang mempuntai kepribadian, kemandirian,” katanya.

Sementara itu Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arief Fakrulloh mengatakan, banyak yang disyukuri sekarang ini. Terutama hajatan Pilkada yang berlangsung aman dan damai.

“Kita bersyukur kita kepada Allah SWT, pilkada serentak kemarin 171 daerah berjalan lancar. Siapa pun yang menjadi gubernur, wakil gubernur, bupati wakil bupati, walikota dan wakil walikota itu takdir dari Allah SWT. Jadi siapapun pemenangnya harus kita dukung bersama karena itu adalah kehendak Allah SWT,” katanya.

Tentang bulan bakti Pancasila sendiri menurut Zudan sangat penting, untuk terus mengingatkan siapa pun di republik ini, bahwa Pancasila adalah obor penuntut harus mesti diingat dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi. Atau dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Pun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam segala aspek, nilai Pancasila harus dibumikan. Lewat wayangan, pesan kebangsaan coba disampaikan. Agar bisa dicatat, diingat serta dicatat dengan mudah oleh siapa pun.

“Satu titik yang ingin saya garis bawahi adalah nilai persatuan yang bersatu. Wayang tidak pernah ditanya oleh orang Papua, ingin menikmati, nikmati saja. Tidak penah ditanya oleh Sumbar datang wayang nikmati saja, tidak pernah ditanya asal-usulnya darimana,” katanya.

Zudan menambahkan salah satu tugas pokok pemerintah, khususnya Kemendagri adalah menjaga persatuan dan kesatuan. Khusus untuk Dukcapil, memberikan dokumen kependudukan kepada seluruh warga Indonesia. Tanpa diskriminasi. Tanpa membedakan. Ia pun berharap, Ki Dalang bisa ikut mensosialisasikan itu. Karena kesenian adalah alat efektif untuk mensosialisasikan program pemerintah.

” Kemendagri terus akan menjaga nilai nilai budaya luhur ini. Ini menjadi komitmen Kemendagri dari seluruh aspeknya. Semua warisan budaya nasional akan kita jaga,” katanya. (Kemendagri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *