Tjahjo Kumolo

Kisah Mendagri di Tenda Pengungsi Lombok

LOMBOK – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo datang mengunjungi Nusa Tenggara Barat (NTB) Selasa (29/8), Tjahjo datang ke provinsi seribu masjid itu untuk menyerah bantuan dana rehabilitasi bagi kantor desa yang kena dampak bencana dan sumbangan dana hasil urunan para pegawai di Kementerian Dalam Negeri untuk korban gempa.

Kebetulan Koran Jakarta, diajak serta meliput kegiatan Mendagri di NTB. Setelah bertemu dengan Gubernur NTB, Mohammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) di kantor gubernur, Menteri Tjahjo meluncur ke Kabupaten Lombok Utara. Sepanjang perjalanan menuju ke Lombok Utara, Koran Jakarta menangkap pemandangan miris, bangunan yang retak dan roboh.

Bahkan ada yang ambruk. Namun yang menggembirakan, di tengah pemandangan yang bikin sesak dada, geliat aktivitas ekonomi warga sudah mulai hidup. Toko-toko banyak yang telah buka, meski warga harus berjualan di toko yang dindingnya retak-retak. Bahkan, dari jendela mobil Koran Jakarta melihat suasana di sebuah pasar.

Pedagang ramai berjualan di halaman pasar. Sementara di belakangnya, bangunan pasar yang rusak pasar karena guncangan gempa. Koran Jakarta pun teringat ucapan Gubernur NTB, Zainul Majdi saat bertemu dengan Mendagri di kantor gubernur sebelum berangkat ke Lombok Utara.

Gubernur NTB mengatakan, geliat kehidupan warga yang tertimpa bencana kini mulai berangsur pulih Katanya, kuatnya pranata adat berbanding lurus dalam menghadapi bencana.

Dan yang patut disyukuri mereka yang tertimpa musibah sangat kuat pegang pranata adat. Sehingga tidak pernah ada konflik antarkampung. Antarsekolah. Tak ada kekerasan antarkomunal ”Mereka miliki pranata adat kuat. Ini jadi bantalan hadapi bencana,” katanya. Menteri Tjahjo juga salut dengan daya semangat warga NTB.

Ia bangga, walau baru saja ditimpa bencana besar dalam waktu cepat geliat kehidupan warga berangsur normal. Ia yakin, warga NTB akan cepat bangkit. “Semoga NTB cepat bangkit,” ujarnya. Tengah hari, Menteri Tjahjo dan rombongan tiba di Kecamatan Pemenang Lombok Utara. Mobil menteri langsung masuk ke halaman kantor kecamatan.

Tenda-tenda besar berjejer di halaman kantor. Sementara kantor camat sudah tak bisa digunakan lagi. Bangunanannya rusak parah. Dinding-dindingnya ambrol. Bahkan balai pertemuan kecamatan sudah miring, tinggal menunggu ambruk. Setelah melihat-lihat tenda dapur umum, Tjahjo kembali melangkahkan kakinya melihat tenda yang lain.

Tenda layanan kesehatan yang dituju. Di dalam tenda, berjejer ranjang untuk pasien. Terlihat hanya ada dua orang yang sedang terbaring di ranjang. Salah satunya anak kecil. Tangannya digip. Wajahnya pucat. Ia ditunggui ibunya. Tjahjo pun mengusap-usap kepala anak kecil yang lemas tergolek. “ Sakitnya apa Bu ?” Tanya Tjahjo pada ibu si anak.” Tangan patah dan diare pak,” jawab si ibu.

Tiba-tiba Tjahjo memanggil ajudannya. Dengan tergopoh- gopoh, ajudan menteri menghampiri. Tjahjo meminta tasnya. Tjahjo pun langsung merogoh tas. Setelah itu, ia kembali menghampiri ranjang tempat anak kecil tergolek. Lalu mengulurkan tangannya pada si ibu. “Bu ini, sedikit dari saya untuk beli susu,” katanya. (KoranJakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *