Tjahjo Kumolo

Indonesia Memasuki Tahap Krisis Energi yang Sangat Mengerikan

Indonesia memasuki tahap krisis energi yang sangat mengerikan, lebih-lebih jika faktor daya dukung lingkungan dimasukkan. Krisis energi bisa dilihat dengan mudah dari:
1. Jenis energi yang digunakan. Indonesia masih menggantungkan dari bahan bakar fossil khususnya batubara. Batubara Indonesia kualitas rendah. Terjadi di jaman tertier. Kandungan panas rendah dan kandungan karbon bebas dan sulfur sangat tinggi. Akibatnya jika dibakar hanya akan mencemari udara.

2. Jatah energi perkepala amat sangat rendah (jauh di bawah 100 kW). Ini bisa dihitung dari total pembangkitan dibagi jumlah penduduk.

3. Kestabilan dan kontinyuitas supply listrik dari PLN amat sangat buruk, karena rendahnya total pembangkitan dan buruknya instalasi distribusi listrik di Indonesia. Akibatnya, sektor riil selalu terpuruk.

Indonesia membutuhkan pembangkitan energi yang:
1. Daya pembangkitannya besar
2. Kehandalannya tinggi dari sisi kestabilan dan kontinyuitas supplynya.

Semua ini ada di energi nuklir. Sederhana dalam berfikir, negara-negara yang secara politik stabil dan industrinya maju selalu memakai energi nuklir, misal Cina, Korea Selatan, India dan Brazil. Indonesia memiliki tambang uranium di Kalimantan – Sulbar dan Papua yang kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan Afrika Selatan.

Salah satu alternatif Jalan keluar mengatasi krisis energi adalah:
1. Pemerintah harus sesegera mengurangi ketergantungan pada BBM dan BBG. BBM dan BBG dipakai untuk hal-hal khusus saja.
2. Pemerintah harus sesegera mungkin membangun energi alternatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.