Tjahjo Kumolo

Hadapi Tantangan, Kuncinya Ikhtiar dan Semeleh Pada Allah SWT

JAKARTA – Ada pernyataan menarik yang diucapkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo saat berbicara di acara seminar yang digelar di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Jumat kemarin. Di acara itu Menteri Tjahjo banyak memberi wejangan soal kehidupan. Kata dia, kunci dalam menjalani kehidupan, hanya satu selalu bersyukur dan tetap ingat kepada Allah SWT.

Menurut Tjahjo dalam menjalani kehidupan, tentu ada riak dan juga tantangan. Sama pula, saat menjalani sebuah pekerjaan. Misalnya menjadi pemangku kebijakan. Tentu banyak permasalahan yang harus dicarikan solusinya. Dan, itu tak gampang. Apalagi jadi pemimpin, entah itu pemimpin instansi, daerah, kementerian atau bahkan pemimpin negara. Bangsa Indonesia, adalah bangsa yang besar. Masalah yang dihadapi begitu kompleks. Ini butuh komitmen juga tekad. Serta ikhtiar yang tiada henti.

“Ya kita mengalami sebuah kompleksitas mulai permasalahan kita, keluarga kita, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara, itu betapa kompleksnya. Kuncinya menyerahkan kepada Allah tapi juga harus dibarengi dengan upaya kita, selalu berusaha (berikhtiar),” katanya.

Yang jadi polisi atau TNI, katanya, tak sekedar mengurusi masalah keamanan atau penegakan hukum. Pun yang jadi walikota atau bupati. Sebagai pemimpin tugas utamanya adalah menggerakkan dan mengorganisir masyarakat yang ada. Dan jangan pernah mengeluh. Tugas seberat apapun harus dijalani dengan ikhlas.

“Kalau kita enggak semeleh ya repot. Saya karena semeleh ini lah. Alhamdulillah saya sudah memecahkan rekor MURI saya lolos enam periode jadi anggota DPR. Mulai 1986 sebagai anggota DPR sebagai pengemban misi sospol ABRI sampai jadi Ketua KNPI, sampai jadi Sekjen partai, Ketua Fraksi dan sekarang dipercaya Pak Jokowi sebagai Mendagri. Kuncinya kita harus kerja harus menyerahkan diri kepada Allah, kepada kita yakini dan dukungan keluarga itu penting,” tuturnya.

Sekarang lanjut Tjahjo, usianya tak muda lagi, sudah mencapai 60 tahun. Dan sudah 20 tahun lebih ia berkecimpung di dunia politik dengan segala dinamikanya. Ia bersyukur, masih bisa memberi sumbangsih pada negara. ” Resepnya dukungan keluarga,” katanya.

Ajaran agama kata dia, tentu jadi salah satu pegangan dalam melangkah dan bertindak. Misalnya yang muslim, tentu rujukannya adalah ajaran Islam. Pasrah, ikhlas dan berikhtiar semata kepada Allah. Selalu eling akan keberadaan Tuhan. Dan, meminta pertolongan hanya kepadaNya.

“Saya kalau pas lagi sendiri lagi santai saya pasti terus berdoa Allah bersamaku, Allah membimbingku, Allah menolongku. Ya Allah aku ingin sukses, aku yakin dapat sukses berkat bimbingan dan pertolonganMu ya Allah, langsung masuk alfatihah.

Itu terus mau tidur, bangun tidur, kalau dimobil ucapkan itu. Dan saya bersyukur sampai 30 tahun berkiprah lolos enggak ada masalah- masalah hukum yang ada di DPR sampai sekarang ini,” tuturnya.

Sebagai seorang muslim, sebagai anak bangsa, lanjut Tjahjo, ia merasa perlu untuk saling mengingatkan. Salah satu yang ingatkan Tjahjo, hormati orang tua masing-masing. Terutama untuk para mahasiswa. Sebab orang tua dengan doa dan ikhtiarnya selalu ingin anaknya menjadi yang terbaik. Berguna bagi bangsa dan agamanya.

“Didikan orang tua penting, tolong adik adik, anda harus berterima kasih kepada orang tua anda yang mampu menyekolahkan anda kesini.

Kebetulan bapak saya punya dua profesi pernah jadi tentara dan polisi,” katanya.

Tjahjo juga memberi nasehat, agar para mahasiswa harus punya impian, imajinasi, gagasan dan konsepsi. Seperti yang dikatakan Bung Karno, bahwa setiap anak muda harus punya impian dan imajinasi. Dengan impian dan imajinasi itu dia pasti punya konsepsi. Dengan konsepi dan gagasan itu, maka dia harus bisa melaksanakan apa yang dia pikirkan dan imajinasikan.

“Setiap orang, setiap zaman ada tantangan, ada masalah. Dulu Bung Karno sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk membangun aparatur pemerintahan kedepan, maka beliau bentuk IPDN. Ini sekolah calon- calon aparatur pemerintah. Bung karno membentuk Lemhanas, agar seluruh pimpinandi eselon I itu punya pola pikir komperhensif, integral termasuk kepolisian, sipil, kumpul dulu agar punya wawasan yang utuh yang sama. Dipersiapkan dengan baik,” tuturnya

Para mahasiswa juga begitu, belajar di universitas adalah salah satu tahapan untuk nanti berkecimpung di tengah masyarakat dengan segala kompleksitas masalahnya. ” Adik- adik juga harus mulai sekarang memahami kondisi kompleksitas cinta tanah air, ini negara besar. Ada banyak suku yang ada di NKRI,” katanya.

Tjahjo pun kemudian mengungkap beberapa fakta yang terjadi di Indonesia. Kata dia, Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk yang besar pula. Indonesia juta negara hukum, tapi juga negara dengan banyak aturan yang kerap tumpang tindih. Ini yang ingin dibenahi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Negara kita negata peraturan hampir 43.000 lebih UU, peraturan walikota, camat, lurah yang melingkupi proses pengambilan kebijakan pembangunan dari pusat sampe daerah,” ujarnya.

Perintah Presiden Jokowi sendiri padanya sebagai Mendagri cukup tegas, bagaimana membangun hubungan dan tata kelola pemerintahan dari pusat dan daerah yang efektif dan efisien. Perintah lainnya mempercepat reformasi demokrasi dan memperkuat otonomi daerah. Maka kebijakan yang ia ambil sebagai Mendagri dalam konteks itu.

“Dalam konteks aparatur pemerintah, perencanaan, perencanaan pembangunan, harus ada proses evaluasi untuk fokus tahun berikutnya. Kuncinya pada stabilitas. Itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah, TNI atau Polri, tapi seluruh elemem masyarakat,” katanya.

Tjahjo juga menyinggung soal kehidupan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Indonesia. Kata dia, di Tanah Air tercatat ada 381.000 ormas, baik yanf terdaftar di tingkat provinsi, kabupaten atau kota. Dan UU memang memberi jaminan bagi setiap warga negara untuk berhimpun dan berserikat. Tapi ia mengingatkan dalam berorganisasi dan berserikat ada aturannya.

“Negara ini punya aturan dan ideologi yaitu Pancasila. Setiap kebijakan politik yang ada harus menggambarkan sila- sila dari Pancasila. Menjaga kebhinekaan, NKRI sebagai bagian kesatuan, ini harga mati” katanya.

Kian hari, lanjut Tjahjo, tantangan yang dihadapi bangsa ini kian berat. Muncul berbagai ancaman yang mengancam eksistensi republik. Tantangan yang saat ini membahayakan yaitu radikalisme dan terorisme. Terorisme merupakan kejahatan luar biasa. Semua elemen bangsa harus bahu membahu melawannya.

“Perlu penanganan dengan action luar biasa secara sistematis progresif memfungsikan fungsi intelijen dengan baik. Menggerakkan tokoh agama dan ulama. Kita yakin pada kepolisian, kepada TNI yang punya pengalaman teritorial, intelijen juga sospol jaman dulu, ini harus digalang harus bersinergi. Kalau tidak sangat bahaya. Kita enggak tahu siapa yang mengira satu keluarga yang cukup bagus berkomunikasi enggak tahunya dia punya pola pikir seperti itu (radikal),” tuturnya.

Tjahjo pun mengajak semua pihak untuk berani melawan. Berani menentukan sikap, siapa kawan, siapa lawan pada perorangan kelompok atau golongan yang punya niat merusak kebhinekaan bangsa, merubah Pancasila, dan ingin merubuhkan NKRI.

“Mari kita lawan,” katanya.

Ancaman, kata Tjahjo adalah masalah narkoba. Ini juga harus dicermati. Sebab per RT, setidaknya ada 1-2 orang yang kena pengaruh narkoba. Dan perharinya ada 60 orang yang meninggal karena narkoba.

“Saya wajibkan RSUD menyiapkan 2-3 kamar untuk rehabilitasi narkoba. Enggak bisa ditahan kalau ditahan kasihan kepolisian. Hutang semua untuk makannya. Ketiga tantangan kita ada pada aparatur yakni korupsi. Ini harsu hati-hati. Area rawan korupsi harus dipahami. Terutama perencanaan anggaran. Masalah hibah dan bansos, mekanisme barang dan jasa, ” urai Tjahjo.

Tantangan keempat, kata dia, masih adanya ketimpangan sosial. Karena itu Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan nawacitanya ingin mempercepat pembangunan infrastruktur, baik infrastruktur ekonomi dan sosial. Ini semata untuk mempercepat hilangnya ketimpangan sosial.

“Juga soal gizi anak, malaria, TBC, ibu hamil meninggal banyak, kanker serviks ada, kebutuhan air bersih. Pak Jokowi ingin mengejar ketertinggalan sejak 73 tahun kita merdeka tadi. Pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial digenjot. Insya Allah akhir tahun ini selesai dan terwujud,” ujarnya. (kemendagri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *