Tjahjo Kumolo

Generasi Muda Jangan Takut Melawan Pemecah Belah Bangsa

YOGYAKARTA- Dalam seminar bertajuk,”Pancasila dan Kebhinekaan,” di Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta, 6 November 2017, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyorot tegang pentingnya semua elemen bangsa menjaga Pancasila serta merawat kebhinekaan. Karena Pancasila dan kebhinekaan adakah kekuatan bangsa yang merekatkan perbedaan, hingga republik ini tetap berdiri sampai sekarang.

“Tapi kondisi saat ini, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila menurun,” kata Tjahjo.

Tentu ini harus disikapi serius. Karena dengan menurunnya pemahaman dan pengamanan Pancasila, maka solidaritas dan gotong royong pun ikut menurun. Dan yang mencemaskan, menurunnya toleransi antara suku, ras, agama. Juga terjadi adanya pergeseran tata nilai.

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya nilai Pancasila,” kata Tjahjo.

Faktor pertama, kata dia, posisi strategis Indonesia. Posisi startegis ini menyebabkan adanya pengaruh yang kuat dari peradaban yang dibawa oleh masyarakat dunia yang singgah atau menetap di Indonesia. Faktor kedua, globalisasi informasi. Informasi yang menyesatkan mudah sekali sampai kepada masyarakat. “Faktor ketiga, perang peradaban,” katanya.

Perang peradaban atau perbenturan antara Barat, Timur Tengah, dan China, kata Tjahjo, membuat dinamika di tingkat global tensinya terus tinggi. Faktor keempat, kapitalisme, liberalisme, dan pasar bebas. Muncul nilai-nilai global yang bersifat negatif yang kemudian diikuti. Nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila seperti kebencian, LGBT, pola hidup konsumtif, individualistik, hedonistik, dan lain-lain. Kelima, neo-komunisme. “Dikhawatirkan akan bangkitnya kembali PKI,” kata dia.

Sementara Indonesia adalah negara besar, yang bertumpu pada perbedaan. Atau dalam kata lain, kebhinekaan adalah kekuatan dari bangsa Indonesia. Jadi fondasi republik. “Kebhinekaan sebagai pemersatu bangsa yang keberadaannya tidak bisa dipungkiri,” kata dia.

Kekuatan lainnya, kata dia, bangsa Indonesia punya landasan kuat yang berasal dari spirit spritualitas. Kekuatan yang kemudian ditopang oleh sikap dan budaya toleransi, saling menghormati satu sama lain. Itu yang membuat Indonesia tetap bersatu.

Tentu, kata Tjahjo, Kementerian Dalam Negeri yang dipimpinnya punya tanggung jawab besar, untuk ikut memastikan NKRI, Pancasila dan kebhinekaan tetap terjaga. Sudah banyak upaya yang dilakukan kementeriannya memastikan itu. Misalnya melakukan pola kerjasama forum pendidikan wawasan kebangsaan. Kerjasama ini dilakukan dengan menggandeng Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) pada 30 provinsi dan 58 kabupaten dan kota.

“Upaya lainnya membentuk Forum Pembauran Kebangsaan pada 30 provinsi dan 319 kabupaten dan kota. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada 34 provinsi dan 365 kabupaten dan kota. Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat pada 32 povinsi dan 375 kabupaten dan kota,” tuturnya.

Serta kata dia, membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme pada 32 provinsi. Upaya lainnya, penanganan konflik sosial dalam rangka penguatan ieologi Pancasila. Untuk mendukung itu, kementeriannya telah membentuk Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial. Kementeriannya juga telah melakukan penguatan kepada pemerintah daerah dalam penanganan penyebaran paham dan ideologi gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Indonesia. “Antisipasi perkembangan dan potensi ancaman terorisme di Indonesia,” kata dia.

Tidak hanya itu, lanjut Tjahjo, Kemendagri juga aktif dalam program pencegahan radikalisme dan terorisme. Ini dalam kerangka untuk bela negara. Langkah konkritnya antara lain, aktualisasi nilai – nilai Pancasila Blbagi komunitas masyarakat berbasis keagamaan di Pondok–pondok Pesantren. Dialog terkait penanganan paham radikal, yang melibatkan unsur aparatur Pemda dan elemen masyarakat atau pemuda di daerah. Dialog kebangsaan dalam rangka kewaspadaan nasional terkait masuknya orang asing atau sindikat internasional ke Wilayah Indonesia.

“Tentu dalam mengawal Pancasila dan kebhinekaannya, kita harus berani dan pahami siapa kawan, siapa lawan,” kata dia.

Tidak hanya itu, Tjahjo juga meminta para generasi muda jangan takut melawan paham-paham baik kiri maupun kanan yang berusaha memecah belah persaudaraan sesama anak bangsa. Harus diperhatikan pula, bahwa salah satu indikasi dari keburukan itu adalah menebar kebencian pada negara dan pemerintahan yang sah. Generasi muda juga harus menghindari perilaku ekslusif yang merasa benar sendiri dan suka menyalahkan paham orang lain.

“Dalam berpolitik agar mengutamakan kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sangat heterogen ini. Hindari kepentingan Politik yang sempit, yang sering menebar kebencian pada ideologi Pancasila,” ucapnya seraya mengatakan jangan membenturkan Pancasila dengan agama mana pun. Kerena Pancasila berasal dari nilai-nilai luhur agama. (Kemendagri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *