Tjahjo Kumolo

Ke Acara Sunatan Pun, Mendagri Bersedia Datang

Mendagri ke acara sunatan

Jakarta – Mungkin bisa dikatakan menteri yang tak bergaya priyayi, salah satunya adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo. Tjahjo memang tak suka diistimewakan, meski ia seorang menteri.

Walau Mendagri menjadi salah satu pembantu Presiden, menteri “tangan kanan” Presiden, cukup merakyat.

Tjahjo dalam setiap kesempatan, entah itu sedang tugas ke luar daerah, ataupun menghadiri sebuah acara, tak mau diistimewakan. Koran Jakarta, merasakan betul itu, ketika beberapa kali ikut kunjungan kerja Mendagri ke daerah.

Misalnya, dalam soal makan, Menteri Tjahjo tak pernah pilih-pilih. Di mana pun dia suka, walau itu warung tenda kaki lima, pasti akan disambangi. Seperti saat Koran Jakarta ikut kunjungan kerja Mendagri ke Grobogan, Jawa Tengah.

Malam hari, saat di Semarang, Menteri Tjahjo mengajak wartawan makan malam. Bukan restoran nyaman yang dituju, tapi yang disambangi adalah warung tenda kaki lima di pinggir jalan yang penuh sesak dengan pembeli.

Di sana, walau ia seorang Menteri, tapi ikut antre dengan pembeli lainnya. Ia tak mau menyerobot atau menyuruh ajudan atau staf protokolnya untuk mengistimewakan dia.

Soal makanan, Menteri Tjahjo mengaku tak pilih-pilih. Tak perlu seorang pejabat itu mesti makan di restoran.

Di warung kaki lima pun, jika memang itu enak, ia pasti akan singgah. Ada sebuah cerita menarik soal kebiasaan makannya. Tjahjo bercerita, ia agak jarang makan di rumah.

Jadwalnya yang padat membuat ia lebih sering beraktivitas di luar rumah. Tiba di rumah sudah larut makan.

Bila lapar, ia tak segan memasak sendiri di dapur.

“Ya, kalau tiba di rumah itu sudah malam. Kalau memang saya lapar, ya tinggal ke dapur, masak mi rebus. Saya sering lakukan itu,” kata Tjahjo.

Tjahjo juga tak segan untuk mentraktir wartawan. Seperti saat selesai menghadiri acara ceramah umum di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Menteri Tjahjo meminta mobil yang ditumpangi wartawan ikut rangkaian mobilnya.

Di rest area di jalan tol, ia pun mengajak semua wartawan yang ikut makan dan ngopi bareng.

Duduk satu meja, sambil makan, Tjahjo tak pernah menolak untuk melayani pertanyaan dari para wartawan. Bahkan, ia tampak menikmati ngobrol bareng sembari menyantap makanan. Obrolan pun berlangsung cair, ditimpahi gelak tawa.

Begitu pun dalam menghadiri acara. Ia tak pernah pilih-pilih undangan. Datang ke undangan kawinan staf pun ia sudah biasa. Bahkan, ia kerap datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.

Tentu, bagi si empunya hajatan, itu sebuah kejutan. Datangnya pun bukan dengan rombongan besar. Cukup dengan ajudan, ia datang ke tempat nikahan.

Seperti pada Senin (23/1), saat salah satu wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna, menggelar acara sunatan putra pertamanya yang bernama Rakeyan Palasara. Menteri Tjahjo tiba-tiba datang.

Tentu, kedatangan orang nomor satu di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu bikin heboh keluarga tersebut. Bagaimana tidak, seorang pejabat negara yang juga pembantu utama Presiden mau datang ke acara sunatan.
Ingin Bersilahturahmi

Orang tua dan mertua wartawan Koran Jakarta kaget bukan main disambangi pejabat negara.

Padahal, tempat tinggalnya masuk gang sempit, di Jalan Haji Jian No 22, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Namun, Menteri Tjahjo bersedia datang, sekadar untuk mengucapkan selamat. Katanya, ia ingin bersilahturahmi. Karena silaturahmi itu sangat penting.

“Saya ini kalau tak ada acara, atau waktu kosong, kalau ada staf atau wartawan yang menggelar acara, entah itu nikahan, diusahakan hadir,” kata Tjahjo saat berbincang dengan Koran Jakarta.

Kedatangan Tjahjo ke gang sempit di Cipete itu pun tentu mengagetkan warga sekitar. Mereka tak menyangka ada menteri yang datang ke acara sunatan. Saat hendak pulang pun, ibu-ibu yang kebetulan hadir di acara sunatan itu berebut untuk foto bareng.

Menteri Tjahjo pun dengan sabar melayani permintaan foto bareng satu per satu. Seusai melayani acara foto bareng, Menteri Tjahjo pamitan.

Ada satu tradisi baru di Kemendagri yang dia gagas. Bagi semua staf yang kebetulan meninggal dunia, ia mengharuskan jenazahnya untuk beberapa saat disemayamkan di Kemendagri.

Ini dilakukan agar semua jajarannya bisa melakukan penghormatan. Hal itu berlaku bagi semua staf, tak peduli dia itu staf biasa atau seorang pejabat.

“Siapa pun dia, mau di staf biasa atau dia pejabat, misalnya kalau meninggal, saya minta, entah itu satu jam atau berapa lama, disemayamkan dulu di Kemendagri, terutama yang di Jabodetabek. Ini agar semua bisa melakukan penghormatan, sebelum dia dikuburkan,” tutur Tjahjo.

Menurut Tjahjo, semua jajaran pegawai di Kemendagri adalah keluarga besarnya.

Karena itu ia tak pernah memandang bulu dalam memberlakukan semua staf di kementerian. Siapa pun staf itu, baik itu pejabat eselon atau pegawai biasa, harus mendapat penghormatan yang sama.

Misalnya, saat ia meninggal, tak pandang jabatan dan golongan, semua dapat penghormatan yang sama untuk disemayamkan di kantor kementerian. “Saya tak mau membeda-bedakan staf saya, semua keluarga besar saya,” katanya. (KORAN JAKARTA)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>